Friday, April 17, 2009

Dynamic Capabilities in Construction -- Interim Results for the 2009 Survey on Indonesian Construction Firms

I’m conducting a research survey as a part of my Ph.D study to elicit critical comments and feedback from Indonesian large construction firms regarding to their dynamic capabilities and industry specific factors that contribute business success in Indonesia.

The research is based on the Dynamic Capabilities Framework (Teece, D.J., 1994/1997 ; 2007/2009) and Five Forces Framework (Porter, M.E., 1985)


UPDATE:

10 April 2009 – This summary was prepared for the 31 March 2009 online based result only, the paper based versions were not included and the result given here is now outdated

Please contact me on +61 402155808 or email if you would like more information or a copy of research results.

Thanks, M. Sapri Pamulu

Sunday, March 22, 2009

Survei Bisnis Konstruksi 2009

Beberapa waktu lalu, suatu survei tahap-1 terkirim yang bermaksud mendapatkan masukan tentang dampak dari factor-faktor dan dan luar terhadap strategi bisnis konstruksi. Perusahaan anda termasuk dalam populasi dari perusahaan konstruksi yang beroperasi di Indonesia. Survei merupakan proyek penelitian mahasiswa pasca sarjana yang dibiayai oleh Queensland University of Technology Australia.
Jika anda telah menyelesaikan dan mengembalikan survey tersebut kepada kami, perkenankan kami mengucapkan terima kasih. Jika belum, sebagaimana Survey Tahap-2 ini merupakan survey tindak-lanjut dengan anda tentang survey sebelumnya, dan kami akan sangat menbghargai jika anda dapat melengkapi daftar pertanyaan hari ini. Kami memahami bahwa ini adalah waktu yang sangat menyibukkan tahun ini, tetapi adalah hal yang sangat penting bahwa informasi tentang asset dan kapabilitas perusahaan anda termasuk dalam studi kami untuk memberi gambaran yang luas tentang bisnis konstruksi yang beroperasi di Indonesia. Survei ini memerlukan waktu sekitar 15 - 30 menit untuk dilengkapi baik versi cetak (offline) maupun online versi Bahasa Indonesia dan English version
Untuk melengkapi survei ini, dimohon untuk memperhatikan instruksi sebagai berikut:
1. Survey ini akan mengkaji hubungan antara asset, kapabilititas dan kinerja perusahaan, kami menganjurkan untuk dengan singkat membaca semua faktor di Bagian Pertama, dan Daftar definisi yg tersedia sebelum membuat tanggapan akhir.
2. Untuk setiap item pertanyaan, mohon lingkari nomor yang tepat sesuai dengan jawaban anda. Terdapat tiga (3) bagian untuk diselesaikan ( Section/Bagian I, II, dan III)
3. Semua informasi dari sini akan diperlakukan dengan sangat rahasia. Semua data yang terkumpul akan dianalisa dan semua informasi tentang perusahaan/responden akan disimpan terpisah dari data survey.
4. Jika nada berkenan untuk menerima souvenir dan ringkasan hasil survey dari kami, mohon mengisi data respondend pada tempat yang tersedia di bagian akhir survey ini (hal.9).
5. Dimohon untuk melengkapi survey ini sebelum tanggal 31 Maret jika memungkinkan.. Survei yang telah diselesaikan agar dikirim melalu fax atau surat elektronik kepada M. Sapri Pamulu / Stephen Kajewski, BEE-QUT Brisbane, Australia 4001, Fax +61-7-31381170 (Internasional) or +62-21-7817235 (Lokal) atau email to m.pamulu@qut.edu.au

Terima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya. M.Sapri Pamulu

Saturday, January 31, 2009

Indonesia Infrastructure Report 2009

EXECUTIVE SUMMARY

Indonesia’s power crisis has rumbled on this quarter, with fears existing over the impact of the country’s power deficit and regular brown outs on Indonesia’s economy. In July 2008, Reuters reported that Japan’s ambassador to Jakarta had sent a letter of complaint to the Indonesian government on the behalf of approximately 400 Japanese firms with operations in Indonesia. Members of the Jakarta Japan Club, a Japanese expatriate business club, are considering pulling out. The club includes Panasonic Lighting Indonesia, which has operations in East Java. Japanese firms have been hit by Indonesia’s power crisis, which due to regular power cuts, has led to stop-start production and financial losses. BMI notes that Indonesia’s economy would suffer if Japanese companies were to relocate. Japan is a major investor in Indonesia. There are over 900 Japanese companies with operations in the archipelago. Indonesia offers Japanese companies a large market and cheap labour. The influx of Japanese investors began in the 1960’s and the Japan External Trade Organisation (JETRO) reports that Japanese investment in Indonesia since then totals US$43bn.

Indonesia’s power infrastructure maybe causing problems for some Japanese companies but it is also offering opportunities for other. In August 2008, the Japanese firm Marubeni Corporation in consortium with France’s Alstom won a US$247mn contract for the construction of a combined cycle gas power plant on the island of Java.

A programme to build new capacity for power generation is just one way in which Indonesia is tackling its power crunch. The country’s deficit between power production and demand is set to reach 39TWh in 2008, and in addition to launching a strategy of planned brownouts, the country is also swapping from gasoline to natural gas, a fuel which the archipelago has in abundance. This is planned to help the country solve its power problems in the mid term, as well as manage problems with providing power in the short term. The strategy became active on July 21 2008, and will run until the end of 2009 for the Islands of Java and Bali. The decree will mean that manufacturing companies will have to move working days each month to a Saturday or Sunday. It is believed that the change is hours will better distribute electricity consumption, and hopefully reduce the number and severity of power surges, which often lead to blackouts.

© 2009 Business Monitor International Ltd

Sunday, June 29, 2008

Indonesia Infrastructure Report Q2 2008

Indonesia, South East Asia’s largest economy, is home to a vibrant construction industry and is witnessing increased investment flows into its infrastructure sector as the state strives to improve the statutory framework - making domestic infrastructure projects more attractive and bankable for investors.This report forecasts that the construction industry is likely to experience an average annual growth rate of 5.74% over the 2008-2012 forecast period.
There is a mix of small, medium and large companies operating in Indonesia’s construction industry.Some of the largest Indonesian firms are members of the Contractors’ Association (AKI). These are the players that are expected to undertake major government projects and compete with international construction companies, both in the domestic and international
markets.
In the current year, the central government has allocated nearly 20% of the overall budget expenditure to public infrastructure development. Moreover, with projects worth more than US$100bn in the pipeline,Indonesia’s domestic construction industry looks set to experience robust growth, in line with economic expansion. In a recent presidential address on the draft 2008 state budget, it was indicated that budgetary allocations to the transport and public works
departments will be increased significantly. It is estimated that in the period 2005-2010, the Indonesian infrastructure sector would require over US$150bn in funding, and a large part of this will have to be raised purely through foreign and domestic private investment.
However, Indonesia is plagued by a few negatives. Primary among these is its business operating environment - considered among the poorest in Asia. Investors often have to contend with security concerns and poor governance characterised by widespread corruption, lack of transparency, poor legal compliance and a highly inefficient tax regime.
Some players from nations such as Japan, South Korea and Taiwan are still wary of financing projects or investing directly in Indonesia. Costly labour is cited as one reason. Another problem that is encountered has to do with the credibility of Indonesian banks. With the lack of funding and limited big-project exposure, it is uncertain whether the nation’s own construction companies will be successful in capturing these lucrative market opportunities.
Banks are still cautious about extending credit to the construction industry. Aside from a shortage of funds, most Indonesian contractors still operate equipment purchased before the 1997 monetary crisis.Such equipment falls short of today’s requirements for speed and high-quality work.
That notwithstanding, BMI analysis indicates that on account of its vast untapped opportunities, the Indonesian construction industry value is expected to reach about US$38.76bn in 2008 and rise to US$44.4bn in 2012. Moreover, in BMI’s Infrastructure Business Environment Ratings for Asia,Indonesia manages a net score of 50. (Business Monitor International, 2008)

Tuesday, May 27, 2008

BUMN Konstruksi Masih Mendominasi

Indikator kesehatan perusahaan bisa dilihat dari rasio keuangan dan kesehatan perusahaan

SEJATINYA meski tidak kentara, persaingan industri jasa konstruksi bisa dikatakan kompetitif. Pemainnya pun beragam ada swasta seperti PT Total Bangun Persada, dan PT Bangun Tjipta serta BUMN seperti PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Waskita Karya, PT Hutama Karya, PT Istaka Karya dan PT Nindya Karya.

Kendati perusahaan jasa konstruksi berstatus pelat merah lebih mendominasi, secara pencitraan, publik atau masyarakat lebih akrab dengan Total Bangun Persada maupun swasta lainnya.

Namun sesungguhnya kiprah BUMN relatif besar. Ini bisa disaksikan dari banyaknya gedung perkantoran mentereng, perumahan, apartemen khususnya di kota Jakarta yang dibangun oleh BUMN tersebut. Jumlahnya pun telah mencapai ratusan gedung, apartemen, hotel, dan bangunan lainnya.

Memang tidak semua perusahaan jasa konstruksi BUMN memiliki kinerja baik. Hanya beberapa saja yang terkenal seperti Adhi Karya, dan Wijaya Karya.

Lantas bagaimana dengan BUMN kosntruksi lainnya? PT Pembangunan Perumahan (PP), diakui banyak pihak sebagai yang terbaik untuk urusan bangun-membangun gedung atau properti sejenis. Wajar saja karena sejak didirikan tahun 1953 dia telah diposisikan sebagai kontraktor perumahan (housing) dan gedung tinggi.

Pengakuan atas kualitas produk yang dihasilkan bisa dilihat dari diraihnya sertifikat ISO 9001:2000. PP juga sekaligus menjadi perusahaan kontraktor pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi tersebut pada bulan Juli 1994.

Selama berkiprah, PP sudah membangun ratusan gedung, apartemen, hotel di DKI Jakarta. Lebih dari itu, produk-produk bangunan tinggi yang dihasilkan oleh PP tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Hingga kini PP masih lebih mengkhususkan diri pada pengerjaan bangunan ketimbang yang lain seperti jembatan, irigasi, dll. Ini bisa dilihat dari tipe pekerjaannya, tahun 2003, PP menyelesaikan 650 pekerjaan konstruksi bangunan dari total 994 pekerjaan, atau sekitar 65 persen. Untuk tahun 2004, PP menargetkan menyelesaikan 64,5 persen pekerjaan bangunan yang ditangani (675 pekerjaan bangunan berbanding total 1.044 pekerjaan).

Menurut Bambang Tri Wibowo, Direktur Operasi PP, pihaknya kini masuk peringkat tiga besar di antara sembilan BUMN konstruksi. Bahkan tahun 2006, PP dinobatkan sebagai BUMN terbaik. Prestasi ini bukan diraih dengan mudah. Untuk mencapai posisi ini, PP harus jatuh bangun.

Dia mencontohkan ketika memasuki krisis moneter tahun 1998, PP mengalami masa-masa teramat sulit. Ketika itu, perusahaan mengalami tiga cobaan sekaligus.

Pertama adalah tidak mendapatkan proyek, kedua proyek yang sudah ada tidak bisa berlanjut, karena tidak ada kas masuk. Di tengah kesulitan ini, PP tetap diwajibkan untuk bisa mengerjakan sesuai dengan kontrak. Sedangkan ketiga adalah melonjaknya harga barang-barang.

Dari sisi eksternal, permasalahan juga cukup pelik. Saat itu, para supplier berlomba-lomba untuk menagih utang. Bambang Triwibowo, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Operasi PP, turut berjuang bersama perusahaan ini untuk melalui masa-masa paceklik.

Untuk menyelesaikan masalah itu, PP menggunakan berbagai cara. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyelesaikan masalah internal. “Di cabang-cabang, kami mengajak karyawan untuk mengurangi gaji. Kami sendiri (Kepala Cabang) mengurangi gaji dan diikuti di bawahnya,” katanya ketika ditemui Jurnal Nasional di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Bagaimana menyelesaikan masalah eksternal? Bambang mengaku menghindari supplier datang untuk menagih utang. “Saya sampaikan bahwa kami belum bisa bayar. Saya minta mereka menunggu dan saat kami bangkit lagi nanti,” kata dia menjelaskan.

Bagi supplier yang tidak percaya, ia menawarkan untuk menjual dengan sangat murah real estate dan tanah yang dimiliki PP.

Menurut dia, cara ini cukup efektif. Dengan demikian, PP memperoleh banyak keuntungan dari segi cash flow dan perumahan mereka juga laku terjual.

Sedangkan bagi pembeli yang bandel yang tidak mau membayar pada PP, dia mengadukan ke Kejaksaan Agung (Kejakgung). “Akhirnya kami selamat. Ada yang keluar dengan baik-baik dan kami beri jalan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini, PP seperti sebuah pohon. “Pohon itu harus dirawat supaya sehat. Namun sehat saja belum cukup. Selain sehat, pohon juga harus tumbuh dengan baik, supaya berbuah.”

Indikator kesehatan dari perusahaan bisa dilihat dari rasio-rasio keuangan maupun rasio-rasio kesehatan perusahaan. Pemasaran, penjualan, pemasukan setelah pajak PP, saat ini tumbuh sekitar 18 persen per tahun. “Untuk mendukung ini semua, kami terus-menerus memikirkan strategi pengembangan sumber daya manusia. Karena tuntutan target perusahaan yang selalu naik dari tahun ke tahun. Padahal keadaan pasar tidak bisa dipastikan. Maka tidak bisa tidak, perusahaan harus memikirkan langkah-langkah pengembangan, supaya ada sumber-sumber pemasukan lain, bila usaha jasa kosntruksi sudah di posisi maksimal,” ucapnya.

Karena itu PP membuat usaha baru, yang berupa investasi jalan Tol bersama PT Citra Marga Nusaphala Persada TBK (CMNP), PT Waskita Karya, dan PT Hutama Karya, untuk ruas Tol Depok - Antasari. Selain itu, PP juga berusaha dengan anak-anak perusahaan yg lain. Misalnya dengan PT Mitra Pola Sarana untuk penyewaan gedung. Juga usaha-usaha di bidang developer, dengan melihat semua aspek secara hati-hati. “Namun, bila kita melihat angka-angka APBN yang selalu naik nilainya. Belum lagi infrastruktur yang mendapat prioritas tinggi, maka kami melihat bisnis jasa konstruksi nasional masih sangat menjanjikan,” kata pria yang hobi nonton teater ini.

Setelah PP, nama yang sering menjadi langganan developer adalah PT Wijaya Karya (Wika). Berdiri tahun 1960, buah karya (masterpiece) dari Wika bisa dijumpai di Jakarta berupa gedung perkantoran, apartemen, kondominium, mal, dll. Meski begitu PT Wika lebih banyak dikenal sebagai kontraktor jalan tol dan jembatan.

Tidak bisa dilupakan nama-nama lain yang cukup dikenal dalam pengerjaan konstruksi khususnya property yakni PT Nindya Karya dan PT Hutama Karya.

Mantan Menteri Perumahan Siswono Yudohusodo menilai kiprah BUMN konstruksi tersebut relatif cukup besar kontribusinya untuk perkembangan sektor properti khususnya. Namun, ke depan peran tersebut perlu diperbesar lagi (Wahyu Utomo, Journal Nasional, 2008)

Thursday, May 15, 2008

POLL: Permasalahan Binis Konstruksi Indonesia

Dari anasir-anasir berikut, yang mana saja yang merupakan masalah dalam berkegiatan di sektor usaha/bisnis jasa konstruksi di Indonesia? (Diolah dari LPJK 2007: Konstruksi Indonesia, Editor: Dr. A. Suraji)